Tafsirkanlah,…

15 September, 2006

Personal Knowledge Management

Filed under: Umum, Rubrik

Personal Knowledge Management

Oleh: Eileen Rachman, EXPERD

Sadarkah Anda bahwa setiap harinya ada 1.000 situs web baru diciptakan? Sementara, setiap tahunnya, tidak kurang dari 30.000 jurnal hasil penelitian baru dipublikasikan.

Ini adalah era ledakan informasi, di mana penyimpanan informasi, data, dan buku tidak lagi bisa dilakukan secara statis di lemari arsip atau perpustakaan. Situs web sekarang lebih dinamis, bisa setiap saat berpindah lokasi, nama,dan ukurannya. Jurnal pun sedemikian seringnya di-update, diubah, dikembangkan, bahkan dihilangkan. Jadi, selain bertambahnya informasi, perubahannya pun sulit diikuti jika individu tidak pintar pintar me-manage-nya.

Beberapa waktu yang lalu, Unilever Indonesia dan Bank Indonesia dinobatkan sebagai juara 1 dan 2 untuk organisasi dengan knowledge management terbaik di Indonesia. Hal ini berarti bahwa organisasi tersebut sudah bisa memanfaatkan informasi yang ada dan menjadikannya pengetahuan yang diolah untuk berbagai kegiatan manajemen. Canggihnya sistem komputer di era digital inilah yang memungkinkan hal tersebut.

Di level individu, tidak semua orang terbiasa dan terampil me-manage informasi yang dimilikinya. Tidak jarang kita temukan, seorang manajer, bahkan direktur, mengabaikan informasi yang ada, ketika akan mengambil keputusan, atau menganalisa suatu gejala dalam situasi kerja. Sebaliknya, ada juga manajer, atau direktur perusahaan berkutat dan terobsesi untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya sehingga tidak produktif karena kerap terlambat mengambil tindakan.

Individu mau tidak mau, perlu mempunyai taktik untuk mengelola informasi yang ia butuhkan untuk dijadikan dasar pengetahuan pribadinya. Banyaknya informasi perlu disikapi oleh individu, agar ia bisa mensistematisasikan dan mengembangkan knowledge management pribadinya. Ada individu yang tidak sadar bahwa dia tidak tahu, namun mengembangkan suatu isu dengan pengetahuan yang tidak faktual dan belum terolah, alias: sok tahu. Sebaliknya ada individu yang tidak sadar bahwa ia sebenarnya tahu, tetapi tidak tahu bagaimana menggali pengetahuannya secara efektif. Personal knowledge management adalah strategi individual untuk menjinakkan informasi dan memanfaatkannya.

Sadari Apa yang Kita Tahu

Terkadang kita kagum saat bertemu seseorang yang bisa berbicara tentang segala hal dengan mengaitkan pengalaman pribadinya, pengetahuan, bacaan, pengamatan, atau juga jurnal yang serius. Orang “seperti ini terasa “encer” dan “knowledgable” Ia adalah contoh orang yang memiliki personal knowledge management yang baik.

Terkadang individu mengabaikan dan tidak menghargai pengetahuan subyektif yang dimilikinya, yaitu wawasan, kesimpulan pribadi, hasil intuisi, pengalaman pribadi, ekspresi, nilai, maupun keyakinan pribadi. Pengetahuan ini sering kali disimpan dalam memori yang sulit dijangkau ketika memikirkan sesuatu. Yang kerap lebih ditonjolkan adalah pengetahuan obyektif, yaitu pengetahuan yang didapat secara formal, sebagai hasil belajar, analisa, mengikuti seminar, dan lainnya. Biasanya pengetahuan ini mudah diekspresikan karena dilengkapi dengan data penunjang, rumus, dan definisi.

Individu yang ingin memanfaatkan knowledge-nya secara utuh, perlu mempunyai strategi mentransformasi potongan-potongan pengetahuan, baik obyektif maupun subyektif, sehingga memiliki “database” yang seimbang.

Cari, Pilih, Pilah, Beri Judul Pribadi

Informasi tidak secara gratis disuguhkan kepada Anda. Untuk itu, individu dituntut untuk memiliki kemampuan mencari, mem-browse, dan mengakses informasi yang dibutuhkan. Kita perlu mengaktifkan semua daya dan panca indera untuk memperoleh informasi. Pasang kuping, pasang mata, menajamkan rasa dan mengamati lingkungan sekitar, sama kadar pentingnya dengan melakukan browsing.

Selanjutnya, menyimpan semua informasi yang Anda temukan tanpa terlebih dulu memilih dan memilah-nya adalah tindakan yang salah, karena informasi hanya berguna bila bisa dicari kembali. Informasi yang didapat, juga tidak akan berguna bila kita tidak melakukan ‘exercise’ dengan mengajukan tanya-jawab pada diri kita sendiri, mengenal what, when, where, why dan how, bahkan what if dan so what. Kesimpulan dan hasil pengolahan ini adalah milik pribadi Anda, paten Anda, dan untuk itu, berilah judul pribadi terhadap semua informasi yang ingin Anda simpan. Dengan sistematika ini, cara pikir kita baru bisa dikatakan utuh.

Manusia hanya bisa mengingat dan mengolah 7 poin besar dalam satu momen tertentu dan kita perlu mengatur apa yang ingin kita ingat dan apa yang ingin kita lupakan. Apakah setiap poin itu diisi dengan informasi yang baru atau basi, yang lengkap atau tidak lengkap, mentah atau matang, akan bergantung pada cara kita mengoperasikan otak kita. Dengan demikian otak juga menyediakan data yang “fresh”, matang dan yang memang kita butuhkan.

Berpikir teratur, kontinu, optimal dan efektif adalah tantangan intelektual abad ke-21 ini.

***
source :http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0609/14/010752.htm

12 September, 2006

The history of machine translation

Filed under: Terjemahan, Umum, Pemrograman

The history of machine translation in a nutshell

John Hutchins

[Web: http://ourworld.compuserve.com/homepages/WJHutchins]

[Latest revision: November 2005]

§1. Before the computer

It is possible to trace ideas about mechanizing translation processes back to the seventeenth century, but realistic possibilities came only in the 20th century. In the mid 1930s, a French-Armenian Georges Artsrouni and a Russian Petr Troyanskii applied for patents for ‘translating machines’. Of the two, Troyanskii’s was the more significant, proposing not only a method for an automatic bilingual dictionary, but also a scheme for coding interlingual grammatical roles (based on Esperanto) and an outline of how analysis and synthesis might work. However, Troyanskii’s ideas were not known about until the end of the 1950s. Before then, the computer had been born.

§2. The pioneers, 1947-1954

Soon after the first appearance of ‘electronic calculators’ research began on using computers as aids for translating natural languages. The beginning may be dated to a letter in March 1947 from Warren Weaver of the Rockefeller Foundation to cyberneticist Norbert Wiener. Two years later, Weaver wrote a memorandum (July 1949), putting forward various proposals, based on the wartime successes in code breaking, the developments by Claude Shannon in information theory and speculations about universal principles underlying natural languages. Within a few years research on machine translation (MT) had begun at many US universities, and in 1954 the first public demonstration of the feasibility of machine translation was given (a collaboration by IBM and Georgetown University). Although using a very restricted vocabulary and grammar it was sufficiently impressive to stimulate massive funding of MT in the United States and to inspire the establishment of MT projects throughout the world.

§3. The decade of optimism. 1954-1966

The earliest systems consisted primarily of large bilingual dictionaries where entries for words of the source language gave one or more equivalents in the target language, and some rules for producing the correct word order in the output. It was soon recognised that specific dictionary-driven rules for syntactic ordering were too complex and increasingly ad hoc, and the need for more systematic methods of syntactic analysis became evident. A number of projects were inspired by contemporary developments in linguistics, particularly in models of formal grammar (generative-transformational, dependency, and stratificational), and they seemed to offer the prospect of greatly improved translation.

Optimism remained at a high level for the first decade of research, with many predictions of imminent “breakthroughs”. However, disillusion grew as researchers encountered “semantic barriers” for which they saw no straightforward solutions. There were some operational systems – the Mark II system (developed by IBM and Washington University) installed at the USAF Foreign Technology Division, and the Georgetown University system at the US Atomic Energy Authority and at Euratom in Italy – but the quality of output was disappointing (although satisfying many recipients’ needs for rapidly produced information). By 1964, the US government sponsors had become increasingly concerned at the lack of progress; they set up the Automatic Language Processing Advisory Committee (ALPAC), which concluded in a famous 1966 report that MT was slower, less accurate and twice as expensive as human translation and that “there is no immediate or predictable prospect of useful machine translation.” It saw no need for further investment in MT research; and instead it recommended the development of machine aids for translators, such as automatic dictionaries, and the continued support of basic research in computational linguistics.

§4. The aftermath of the ALPAC report, 1966-1980

Although widely condemned as biased and short-sighted, the ALPAC report brought a virtual end to MT research in the United States for over a decade and it had great impact elsewhere in the Soviet Union and in Europe. However, research did continue in Canada, in France and in Germany. Within a few years the Systran system was installed for use by the USAF (1970), and shortly afterwards by the Commission of the European Communities for translating its rapidly growing volumes of documentation (1976). In the same year, another successful operational system appeared in Canada, the Meteo system for translating weather reports, developed at Montreal University.

In the 1960s in the US and the Soviet Union MT activity had concentrated on Russian-English and English-Russian translation of scientific and technical documents for a relatively small number of potential users, who would accept the crude unrevised output for the sake of rapid access to information. From the mid-1970s onwards the demand for MT came from quite different sources with different needs and different languages. The administrative and commercial demands of multilingual communities and multinational trade stimulated the demand for translation in Europe, Canada and Japan beyond the capacity of the traditional translation services. The demand was now for cost-effective machine-aided translation systems that could deal with commercial and technical documentation in the principal languages of international commerce.

§5. The 1980s.

The 1980s witnessed the emergence of a wide variety of MT system types, and from a widening number of countries. First there were a number of mainframe systems, whose use continues to the present day. Apart from Systran, now operating in many pairs of languages, there was Logos (German-English and English-French); the internally developed systems at the Pan American Health Organization (Spanish-English and English-Spanish); the Metal system (German-English); and major systems for English-Japanese and Japanese-English translation from Japanese computer companies.

The wide availability of microcomputers and of text-processing software created a market for cheaper MT systems, exploited in North America and Europe by companies such as ALPS, Weidner, Linguistic Products, and Globalink, and by many Japanese companies, e.g. Sharp, NEC, Oki, Mitsubishi, Sanyo. Other microcomputer-based systems appeared from China, Taiwan, Korea, Eastern Europe, the Soviet Union, etc.

Throughout the 1980s research on more advanced methods and techniques continued. For most of the decade, the dominant strategy was that of ‘indirect’ translation via intermediary representations, sometimes interlingual in nature, involving semantic as well as morphological and syntactic analysis and sometimes non-linguistic ‘knowledge bases’. The most notable projects of the period were the GETA-Ariane (Grenoble), SUSY (Saarbrücken), Mu (Kyoto), DLT (Utrecht), Rosetta (Eindhoven), the knowledge-based project at Carnegie-Mellon University (Pittsburgh), and two international multilingual projects: Eurotra, supported by the European Communities, and the Japanese CICC project with participants in China, Indonesia and Thailand.

§6. The early 1990s

The end of the decade was a major turning point. Firstly, a group from IBM published the results of experiments on a system (Candide) based purely on statistical methods. Secondly, certain Japanese groups began to use methods based on corpora of translation examples, i.e. using the approach now called ‘example-based’ translation. In both approaches the distinctive feature was that no syntactic or semantic rules are used in the analysis of texts or in the selection of lexical equivalents; both approaches differed from earlier ‘rule-based’ methods in the exploitation of large text corpora.

A third innovation was the start of research on speech translation, involving the integration of speech recognition, speech synthesis, and translation modules – the latter mixing rule-based and corpus-based approaches. The major projects are at ATR (Nara, Japan), the collaborative JANUS project (ATR, Carnegie-Mellon University and the University of Karlsruhe), and in Germany the government-funded Verbmobil project. However, traditional rule-based projects have continued, e.g. the Catalyst project at Carnegie-Mellon University, the project at the University of Maryland, and the ARPA-funded research (Pangloss) at three US universities.

Another feature of the early 1990s was the changing focus of MT activity from ‘pure’ research to practical applications, to the development of translator workstations for professional translators, to work on controlled language and domain-restricted systems, and to the application of translation components in multilingual information systems.

§7. The late 1990s and early 2000s.

These trends have continued into the later 1990s. In particular, the use of MT and translation aids (translator workstations) by large corporations has grown rapidly – a particularly impressive increase is seen in the area of software localisation (i.e. the adaptation and translation of equipment and documentation for new markets). There has been a huge growth in sales of MT software for personal computers (primarily for use by non-translators) and even more significantly, the growing availability of MT from on-line networked services (e.g. AltaVista, and many others). The demand has been met not just by new systems but also by ‘downsized’ and improved versions of previous mainframe systems. While in these applications, the need may be for reasonably good quality translation (particularly if the results are intended for publication), there has been even more rapid growth of automatic translation for direct Internet applications (electronic mail, Web pages, etc.), where the need is for fast real-time response with less importance attached to quality. With these developments, MT software is becoming a mass-market product, as familiar as word processing and desktop publishing. On the research front, the principal areas of growth are to be seen in example-based and statistical machine translation, in the development of speech translation for specific domains, and in the integration of translation with other language technologies.

10 September, 2006

Korpus

Filed under: Terjemahan, Umum, Pemrograman

Non-English, Parallel & Multilingual Corpora

Corpus dalah sekumpulan data yang terorganisir dan tersimpan dalam suatu media penyimpanan sesuai dengan kategorinya. Biasa digunakan sebagai bahan, data atau materi untuk penelitian/riset, pendidikan atau hanya sekedar untuk keperluan pengarsipan.

Isi Korpus itu sendiri ada macam2, ada yg berisi news, percakapan, kalimat2 perintah ataupun naskah. Korpus dapat ditulis dalam satu bahasa, tetapi ada juga yg ditulis dalam beberapa bahasa. Untuk jenis korpus yg demikian disebut paralel korpus. Misalkan, korpus news (berita) yg ditulis dlm bahasa Indonesia dan Inggris.

Berikut ini adalah link untuk mendapatkan ‘Non-English, Parallel & Multilingual Corpora’.

http://devoted.to/corpora

27 August, 2006

Pemahaman Bahasa

Filed under: Terjemahan, Umum, Pemrograman

Pemahaman Bahasa

Manusia telah mencoba untuk mendefinisikan bahasa dari beberapa segi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut
• satu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
• satu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain
• satu kesatuan sistem makna
• satu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
• satu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh :- Perkataan, kalimat, dan lain lain.)
• satu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.

Walau bagaimanapun, bahasa manusia merupakan bentuk yang dikaitkan dengan “bahasa”. Ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik, atau pakar bahasa.

Menetapkan perbedaan utama antara bahasa manusia satu dan yang lainnya sering amat sukar. Chomsky (1986) membuktikan bahwa sebagian dialek Jerman hampir serupa dengan bahasa Belanda dan tidaklah terlalu berbeda sehingga tidak mudah dikenali sebagai bahasa lain, khususnya Jerman.

Ada beberapa bahasa artifisial (buatan) yang dikenal. Salah satunya adalah bahasa Esperanto. Bahasa ini diciptakan oleh L. L. Zamenhof di mana bahasa ini merupakan paduan dari berbagai unsur bahasa, khususnya bahasa-bahasa Roman yang dicampurkan dengan unsur-unsur Bahasa Slavia dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, serta digunakan untuk mempermudah pembelajaran bahasa karena kesederhanaan tata bahasanya.

Bahasa-bahasa artifisial lainnya yang disebut conlang (constructed language) antara lain adalah Bahasa Interlingua dan Bahasa Lojban.

Sebagian pakar bahasa, seperti J.R.R. Tolkien, telah menciptakan bahasa rekaan, untuk tujuan di bidang sastera . Salah satunya adalah bahasa Quenya, yakni satu bentuk bahasa yang dipakai oleh kaum Elvish. Quenya mempunyai abjad dan istilah tersendiri serta dapat digunakan oleh manusia. Di samping bahasa Quenya, juga diciptakan bahasa Klingon yang pernah dipakai dalam film Star Trek.

Bahasa manusia yang berbeda-beda menyebabkan manusia mencoba untuk mengungkapkannya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan komputer untuk menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lainnya. Perangkat demikian dikenal sebagai Mesin Penerjemah.

Mesin Penerjemah merupakan hal yang sangat diidam-idamkan oleh para pakar komputer sejak awal. Pada mulanya mereka memperkirakan, bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah. Akan tetapi, hal tersebut ternyata sulit dalam pelaksanaannya, sehingga para pakar komputer tersebut putus asa. Meskipun demikian, di masa sekarang ini beberapa perangkat penerjemah telah dijual secara komersial di pasaran.

Dari penjelasan diatas, dapatlah kita ambil menjadi satu iktibar bahwa, betapa agungnya Tuhan Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Kelebihan dalam hal akal fikiran, alat alat sensor yg sangat peka dan secara otomatis (reflek) akan bekerja ketika input datang. Mata akan bekedip ketika benda asing akan mencoba untuk masu kedalam mata.

Demikian juga dengan pemahaman bahasa, ketika seseorang mendengar sesuatu ucapan dalam bhs tertentu, otak secara spontan dan reflek akan mencari kepusat pengetahuan kita ’memori’ dan dengan segera pula mendeteksi untuk memberikan respon “oo ini adalah bhs ini, dan artinya adalah …” tanpa perlu melalui proses “Enter keywords and press button ‘N’ to translate”. Kalau hal tersebut dibuat dan dicoba untuk dilakukan oleh computer dengan menuliskan kode-kode program, bisa ribuan instruksi yang akan diberikan dengan segudang logika yang digunakan. Itupun terkadang tidak sesuai dg yang diharapkan.

Subhanalllah,…

שׂα$$@£ăم

Nesdi Evr

19 August, 2006

Merayakan Hari Kemerdekaan di Negeri Jiran

Filed under: Umum

Merayakan Hari Kemerdekaan di Negeri Jiran

Tahun ini, adalah kali ke enam aku merayakan hari yang sangat bersejarah bagi negaraku, hari Kemerdekaan (Independence Day) di negeri orang. Kali ini aku berada dinegeri jiran, Malaysia. Negara ini jaraknya cukup dekat dengan Indonesia, cukup beberapa jam perjalanan laut saja atau dalam hitungan menit jika lewat udara. Namun, akan terasa jauh jika kita bandingkan perkembangan pembangunan disini dengan dinegeri kita. Mungkin jaraknya bisa puluhan tahun, miris dan ironis memang.

Pagi ini, 17 Agustus 2006 aku bersiap-siap untuk mengikuti upacara bendera dan menuggu detik2 proklamasi dibacakan yang akan berlangsung di Wisma Duta, KJRI Johor Bahru Malaysia. Aku sms ketua rombongan untuk menanyakan dimana kumpul dan kapan bus bertolak dengan harapan bias berangkat kesana bersama dan tidak terlambat. Tidak menunggu berapa lama, bus bertolak dari kampusku-UTM dan menuju Wisma Duta. Tidak berapa lama kemudian, bus berhenti sebentar dan menaikkan temanku yang sebelumnya menelponku untuk ikut upacara. Dengan wajah yg bersemangat dia naik bus dan langsung mencari tempat duduk.

Tak berapa lama kemudian (mungkin setelah dia menguasai situasi, hehehe) dia bertanya kepadaku, “Pak, ini aja yang berangkat. Mana yang lain?”. Aku jawab, “ya, nampaknya ini aja. Yang lainnya mungkin naik kendaraan lain”. Oo, biasanya ramai pak, katanya lagi. Mungkin kawan2 tu ada tugas yg tidak bisa ditinggalkan, jawab ku. Dia tersenyum, entah apa arti senyumnya. Weleh,..weleh kayak lagu aja.

Sesampainya di tempat upacara, kami disambut oleh bapak2 petugas dari KJRI JB. Kami dipersilahkan masuk dan menuliskan jumlah orang yg ikut dlm rombongan. Lalu kami menuju tempat upacara dan membentuk barisan. Sebelum upacara dimulai, seperti biasa panitia memberikan petunjuk agar upacara berjalan tertib, dan lancar. Sebagai WN yg santun dan baik, tentulah kita diharapkan mematuhinya.

Ketika upacara dimulai, suasana berjalan tertib dan khidmat. Barulah suasana sedikit tidak enak setelah acara penaikan bendera dan pembacaan proklamasi. Suara2 ‘hantu’ yg berasal dari belakang (kebanyakan dari kawan2 pekerja). Suasana khidmatpun jadi buyar. Bahkan saat pembacaan do’a pun, suara2 tersebut semakin menggangu. Baru sepatah kata yang dibacakan pembaca doa, sudah terdengar suara ’Amin’ yang saling bersahut-sahutan. Entah apa yg diaminkannya.

Ketika bendera dinaikkan dan diiring lagu kebangsaan’ Indonesia Raya’, ada sebentuk rasa yang timbul. Rasa sedih, gembira dan haru bercampur menjadi satu,
membuat bulu tangan ku merinding. Ada juga yg terlihat matanya berkaca-kaca. Mungkin karena terbayang betapa bayak pengorbanan yg diberikan para pahlawan dan pendahulu kita demi merebut kemerdekaan ini.

Upacara selesai, pekik merdeka dikumandangkan. Merdeka ,..merdeka,…merdeka.
Tiba pula saatnya acara menyanyikan lagu2 perjuangan dan hiburan. Disinilah kawan2 kita dan para peminat dangdut seperti diberi kekuatan dan kekhusukan. Dibuka dengan lagu-lagu perjuangan. Respons kawan2 pekerja tampak gagap, mungkin karena mereka tidak akrab dan entah berapa lama tak mendengarkan lagu2 itu. Saya sendiri juga sudah agak lupa lagu tsb (maklumlah,…..hehehe). Namun, ketika masuk ke lagu2 dangdut populer, baru dengan musik yang menghentak, spontan mereka berteriak girang nyaris garang dan melompat-lompat, sepertinya meluahkan ‘tekanan’ dan ‘beban’ kerja selama ini. Mungkin inilah makna ‘Merdeka’ bagi mereka.

Dalam fikiranku, sudah 61 tahun usia negriku merdeka. Tentu sudah banyak yang berubah, entah itu sikap dan tingkah laku ataupun mental orang Indonesia sendiri dalam memaknai hari kemerdekaan ini. Dan yang pasti dan yang perlu kita pertanyakan adalah, “apa yang telah kita berikan untuk Indonesia, untuk mengisi kemerdekaan ini”.

Entahlah,…..

Dirgahayu Republik Indonesia
Merdeka, merdeka,.. merdeka

Nesdi Evr
UTM JB 170806

14 April, 2006

Dunia dan rumah

Filed under: Terjemahan, Umum, Diskusi, Rubrik

Dunia dan Rumah

Banyak sekali ayat-ayat dan rahasia Tuhan yg berserakan dibumi, dilangit dan dimana-mana.
Namun,
sedikit sekali yg tahu, apalagi paham. Kenapa,…?

Banyak sekali dan bahkan tak cukup seluruh air laut dan pepohonan untuk menuliskan rahmat Nya.
Namun,
sedikit sekali yg bersyukur, apalagi memahaminya sambil bersyukur. Kenapa,…?

Mungkin kita perlu lebih peka, lebih introspeksi dan bercermin pada diri.
Mungkin kita tak sadar, tak menyadari atau bahkan tak mau sadar.

Bukankah segala sesuatu yg diciptakan itu tidak pernah sia-sia?
Bukankah segala sesuatu itu diciptkan ada guna, manfaat dan tujuannya?
Bukankah segala sesuatu itu sudah jelas tertulis disana?

Mungkin,…
itu semua adalah masih rahasia Nya.
Tapi yg pasti,
semua itu diciptakan untuk kita, untuk manusia.

Jadi,..
Rahasia itu perlu dikaji, diteliti dan dipelajari.
Rahasia itu perlu dipecahkan, disingkap dan diterjemahkan.

Tapi yg lebih penting,
Dekati dan cintailah pemilik Nya.

‘’

  • Dunia ini ibarat sebuah rumah,
    Rumah yg terdiri atas ruangan2
    Masing2 ruangan mempunyai fungsi masing2

    Setiap ruangan dihubungkan oleh pintu2
    Pintu2 tempat masuk dan keluar
    Setiap pintu itu ada kuncinya pula

    Dirumah itu juga ada jendela
    Jendela tempat kita melihat keluar
    Diluar juga ada rumah
    Rumah yang juga ada pintu dan jendela

    Ternyata,..
    Terdapat banyak rumah
    Ada yg kecil ada yg besar
    Ada yg mewah ada yg kumuh
    Ada yg wah ada yg huh

    Tapi yang pasti,
    Rumah-rumah itu ada pintu dan jendela
    punya pemilik dan punya penguasa

    Tinggal kini,
    Dimana kita,
    Dirumah mana kita

    ness
    April 2006

  • The skill is not by having many listeners but to earn the good pleasure of Allah
    Bedi-uz-Zaman Said Nursi

    12 January, 2006

    Perlunya Penterjemahan Bhs. Arab-Indonesia

    Perlunya Penterjemahan Bhs. Arab-Indonesia

    Banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yg bersumber dari negeri Arab.
    Sebut saja tentang ilmu kedokteran, matematika, ilmu falaq dll, apalagi yg berhubungan dengan agama Islam..
    Kesemuanya tentu saja ditulis dlm bhs Arab. Sumber ilmu tsb perlu dikaji, dimengerti dan dipahami.
    Sudah tentu tujuan ahkirnya adalah untuk dimanfaatkan sesuai keperluan kita.

    Untuk tujuan itu, yg pertama dilakukan adalah berkecimpung dengan Bahasa Arab. Ia perlu dipelajari, diekplorasi dan diolah sedemikian rupa spy dapat dengan mudah dan cepat dimanfaatkan, bahkan oleh orang yg awam samasekali dg bahasa Arab.

    Bertitik tolak dari hal tersebut diatas, saya mencoba membuat forum ini sbg tempat kita berkomunikasi, bertukar fikiran,
    ide dan saran yg konstruktif dan membangun.

    Semoga.

    Menjadi Jutawan Melalui MLM

    Filed under: Umum, Diskusi

    Menjadi Jutawan Melalui MLM

    Dalam setiap seminar, ceramah dan pertemuan mingguan atau bulanan, penceramah sering berkata bahwa ‘’Sseorang pengusaha-pedagang bisa menjadi kaya dalam perdaganagan/perniagaan, menjadi jutawan! Banyak orang yang tidak percaya dengan kata-kata penceramah ini. Benarkah bisa menjadi jutawan dengan berdagang? Kedengarannya agak mustahil.

    Ya, kata-kata ini memang agak mustahil tetapi ini tidak berarti ia tidak bisa menjadi kenyataan. Dalam agama pun, dikatakan bahwa 9 bagian dari 10 bagian rezeki terdapat dalam bidang perdagangan. Ini bermakna bahwa 90% kekayaan bisa didapat dengan jalan berdagang. Jika anda mau bergelar jutawan, anda perlu percaya bahwa anda bisa menjadi jutawan, tapi bukanlah dalam sekejap mata.

    Menjadi jutawan dalam jualan langsung (MLM) sama dengan membangun suatu bangunan/gedung. Pondasi perlu dibina sebelum anda membangun dinding beton. Setelah tingkat demi tingkat dapat dibangun, barulah anda bisa memasang/membina mercunya. Membina sebuah bangunan tidak dapat dilakukan dalam satu atau dua hari, tapi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Jika bangunan itu bangunan yg megah, diperlukan masa yang cukup lama untuk mewujudkannya.

    Bisa atau tidak menjadi jutawan MLM adalah soal kedua. Persoalan dasarnya adalah mau berbuat atau tidak. Anda sabar atau tidak. Bukan menjadi rahasia bahawa: ‘’Jika mau menjadi kaya, berdaganglah!”.

    Banyak pedagang/pengusaha yang menjadi kaya-raya seperti Pemilik Microsoft, Bill Gates “mencipta keperluan masyarakat “, bukannya “memenuhi keperluan masyarakat”. Baynyak orang /pelanggan tidak menyangka produknya akan dikeluarkan, tetapi beliau mengeluarkannya kerana sadar bahawa produk itu kelak akan menjadi keperluan orang pada masa akan datang.

    Dalam MLM, daftar produk telah tersedia. Kegunaannya juga telah diketahui. Misalnya, pasta gigi digunakan untuk mencuci. Anda menjual sabun cuci. Ini bererti anda hanya memenuhi keperluan pelanggan yang mahu menggunakan pasta gigi untuk memcuci pakaian. Untuk lebih sukses dan berlainan daripada pengusaha lain, anda perlu “mencipta keperluan pelanggan” melalui sabun cuci. Misalnya, terdapat pasta gigi yang dirumuskan sedemikian rupa hingga menjadi serba guna (multi-purpose). Selain dapat dijadikan sabun cuci, dapat pula dijadikan pupuk tanaman atau membersihkan perhiasan. Pendek kata, anda mesti kreatif. Anda mesti menjadikan sesuatu produk yang anda edarkan bukan saja dapat digunakan untuk kegunaan biasa tetapi juga dapat digunakan untuk kegunaan yang lain.,…..

    9 January, 2006

    Semangat Rerumput

    Filed under: Greatting, Umum

    Di bumi yg terhampar luas, aku kelihatan begitu kerdil

    Tubuhku tak setegap pohonjati yg berakar tunjang
    Tak sekukuh dan semegah gunung yg tinggi
    Tak seperti mekar melati yg harum mewanngi

    Rejaman angin ribut, tak mampu kutepis
    Terjangan hujan taufan yg mencurah, tak mampu ku tangkis
    Cengkraman terik mentari, terus saja membengis

    Namun,…
    Perjuangan hidupku takkan pernah goyah

    Aku percaya, sesungguhnya
    Angin ribut yg membuas
    Hujan taufan yg mengganas
    Terik mentari yg mencekam

    Tak betah merobek semngatku
    Tak berdaya menghambat pertumbuhanku
    Tak bisa menghalangku, mmembiak, melata keseluruh penjuru

    Aku Percaya,
    Buas angin taufan, sekedar menyapu debu dibahuku
    Ganas hujua ribut, umpama menabur pupuk berkahsiat padaku
    Panas terik mentari, hanyalah bagaikan sajian hidangan kehidupanku

    Aku sadar, …bahwa,
    Ribut taufan, sebenarnya menambah tumbuh kental jiwaku
    Terik mentari bagaikan memberi nafas baru

    Dan kini semangat rerumput menjadi pegangan hidupku

    ————-
    Ness
    01-2006

    7 January, 2006

    Hello world!

    Welcome to ness at Blogsome.
    Selamat datang di Webblog saya,

    Web ini adalah tempat untuk saling berkomunikasi, tukar ide dan fikiran berkenaan dengan masalah Penterjemahan.

    Dalam era global sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat. Namun, ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, kebanyakan dikuasai dan didominasi oleh negara tertentu saja.
    Salah satu halangan / kendala dalam menyerap, mentransfer mengembangkan ilmu dan teknologi tsb adalah masalah ‘Bahasa’, kesulitan memahami suatu bahasa.

    Oleh karen itu, Penterjemahan menjadi suatu cabang ilmu yg saat ini sangat diperlukan kehadirannya.
    Penterjemhan bahasa alami (Natural Language) dapat dilakukan oleh manusia atau dg memanfaatkan komputer.

    Webblog ini diharapkan dapat menjadi forum diskusi dan sharing knowledge dlm hal penterjemahan (Translation), terutama memanfaatkan teknologi informasi atau program komputer.

    Kami senang jika anda turut serta berpartisipasi,

    Salam,…

    ————-
    Ness,
    January 2006






















    Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here